• Beranda
  • Google+
  • Tukar Link
  • Backlink
Mike Portal
  • What's Hot
  • Aneh Unik
  • Humor
  • Misteri
  • Gaya Hidup
  • Teknologi
  • Opini Anda
  • Tionghoa 華人
Home » Posts filed under Info Tionghoa
Tampilkan postingan dengan label Info Tionghoa. Tampilkan semua postingan

Mike Portal | Five Tiger Generals [五虎将] atau Lima Jenderal Harimau mengacu pada lima jenderal militer dari negara Shu Han pada masa Perang tiga Negara (Sam Kok). Lima Jenderal yang dimaksud adalah Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, Ma Chao dan Huang Zhong yang dikenal karena keberanian mereka. Istilah ini muncul dalam novel roman Tiga Kerajaan yang ditulis oleh Luo Guanzhong; dimana Liu Bei, pendiri dari kerajaan Shu Han, memberikan gelar “Lima Jenderal Harimau” sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka dalam berperang. Sebenarnya sejarah dari sebutan “Lima Jenderal Macan ini” tidak diketahui secara pasti. Riwayat para jenderal memang ada, tetapi tidak pasti apakah mereka diberi gelar pada saat hidup  atau setelah meninggal sebagai penghormatan . Istilah “Lima Jenderal Harimau” ini kemungkinan besar hanya merupakan gaya bahasa  yang digunakan dalam novel. Berikut informasi mengenai lima jenderal yang terkenal tersebut :


Nama Lengkap: Guan Yunchang
Lahir: A.D. 162
Meninggal: A.D. 219
Anak: Guan Ping (anak angkat, A.D. 182), Guan Xing (A.D. 193), Guan Suo (A.D. 194)
Cucu: Guan Tong (anak dari Guan Xing, A.D. 224), Guan Yi (anak dari Guan Xing, A.D. 226)

Guan Yu – 關羽 (nama panggilan Yunchang) adalah seorang jenderal yang melayani panglima perang Liu Bei pada akhir Dinasti Han Timur dari China. Dia memainkan peran penting dalam perang sipil yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Han dan pembentukan negara Shu Han di periode Tiga Negara, dimana Liu Bei adalah kaisar pertamanya. Guan Yu juga mengangkat saudara dengan Liu Bei dan Zhang Fei. Selama masa Pemberontakan Selendang Kuning, Guan Yu bersama-sama Liu Bei dan Zhang Fei saling bahu membahu. Guan Yu meninggal pada tahun 219 setelah menolak untuk menyerah kepada Sun Quan (yang bekerja sama dengan Negara Wei, Caocao) sehingga dia bersama anak angkatnya, Guan Ping, dihukum mati.

Sebagai salah satu tokoh sejarah China yang terkenal di seluruh Asia Timur, kisah hidup Guan Yu sebagian besar telah ditemukan dalam novel sejarah roman Tiga Kerajaan atau diturunkan dari generasi ke generasi, di mana perbuatan dan kualitas moralnya telah diakui. Guan Yu dihormati sebagai lambang kesetiaan dan kebenaran. Guan didewakan sejak awal Dinasti Sui dan masih dipuja oleh banyak orang China sampai saat ini, terutama di bagian selatan China, Taiwan, Hong Kong, dan komunitas China perantauan yang ada di luar negeri. Dia adalah seorang tokoh dalam agama rakyat China, populer di kalangan Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme China. Banyak orang membuat tempat sembahyang kecil untuk menghormati Guan Yu, termasuk di toko-toko tradisional China dan restoran. Ia sering disebut Guan Gong (Guan yang terhormat) dan Guan Di (Kaisar Guan).


Nama Lengkap: Zhang Yide
Lahir: A.D. 167
Meninggal: A.D. 221
Anak: Zhang Bao (A.D. 192), Zhang Shao (A.D. 198)

Zhang Fei – 張飛 (nama panggilan Yide) adalah seorang jenderal militer yang bertugas di bawah panglima perang Liu Bei pada akhir Dinasti Han Timur dan awal periode Tiga Negara. Zhang Fei dan Guan Yu adalah dua orang yang berada di paling awal untuk bergabung dengan Liu Bei. Mereka lalu mengikat hubungan persaudaraan dengan junjungan mereka, Liu Bei, dan menemaninya pada sebagian besar eksploitasi perjalanan awal. Zhang Fei bertempur di berbagai pertempuran untuk Liu Bei, termasuk pertempuran Red Cliffs (208-209), pengambilalihan Provinsi Yi (212-215) dan penyerangan/kampanye Hanzhong (218-219).

Dia dibunuh oleh bawahannya, Fan Jiang dan Zhang Da, dengan alasan karena Zhang Fei kadang memerintahkan suatu hal yang tidak masuk akal kepada mereka dalam waktu yang sangat singkat dan sering mendapat perlakuan yang buruk. Konon sikap Zhang Fei berubah menjadi brutal setelah saudara angkatnya Guan Yu meninggal dan dia ingin segera membalas dendam. Zhang Fei meninggal pada tahun 221 hanya setelah beberapa bulan negara bagian Shu Han yang didirikan oleh Liu Bei berdiri di awal tahun itu.


Nama Lengkap: Zhao Zilong
Lahir: A.D. 158
Meninggal: A.D. 228
Saudara: Zhao Lei (saudara angkat)
Anak: Zhao Tong (A.D. 209), Zhao Guang (A.D. 210)

Zhao Yun – 趙雲 (nama panggilan Zilong) adalah seorang jenderal militer yang tinggal di akhir Dinasti Han Timur dan awal periode Tiga Negara. Dia awalnya menjadi bawahan panglima perang utara Gongsun Zan. Zhao Yun kemudian datang untuk melayani Liu Bei dan sejak saat itu dia menemani Liu pada sebagian besar eksploitasi awal, seperti pertempuran Changban (208) dan penyerangan/kampanye Hanzhong (217-219). Dia terus melayani di negara bagian Shu Han pada periode Tiga Kerajaan, berpartisipasi pada ekspedisi Utara pertama Zhuge Liang, sampai kematiannya pada tahun 229. Banyak fakta tentang kehidupan Zhao Yun tidak jelas karena informasi yang terbatas dalam sumber-sumber sejarah. Beberapa aspek dan kegiatan dalam kehidupannya telah sangat didramatisasi atau berlebihan dalam cerita rakyat dan fiksi, terutama di sejarah Roman Tiga Kerajaan karangan penulis Luo Guanzhong, di mana ia dipuji sebagai anggota dari Lima Jenderal Harimau di bawah Liu Bei.


Nama Lengkap: Ma Mengqi
Lahir: A.D. 176
Meninggal: A.D. 225
Ayah: Ma Teng
Saudara: Ma Xiu (A.D. 178), Ma Tie (A.D. 180)
Sepupu: Ma Dai (A.D. 174)

Ma Chao – 馬超 (nama panggilan Mengqi) adalah seorang jenderal perang militer yang tinggal di akhir Dinasti Han Timur dan awal periode Tiga Negara. Dia merupakan anak tertua dari Ma Teng dan keturunan Ma Yuan. Ma Chao menggerakkan tentara sang ayah bekerja sama dengan saudara Ayahnya, Hansui, untuk membalas dendam setelah Cao Cao menipu ayahnya datang ke Ibukota dan membunuhnya bersama saudara ayahnya yang lain, Ma Xiu dan Ma Tie. Ma Chao bergabung dengan pasukan Liu Bei setelah dibujuk oleh Zhuge Liang pada saat dia sedang bertarung mati-matian dengan Zhang Fei pada penyerangan/ekspansi Liu Bei ke daerah Xichuan. Setelah Kerajaan Shu berdiri, Ma Chao bertanggung jawab menjaga perbatasan utara dari serangan kaum barbarian dan dari Kerajaan Wei. Dia muncul sebagai karakter utama dalam sejarah Roman Tiga Kerajaan karangan penulis Luo Guanzhong, sebagai salah satu dari Lima Jenderal Harimau di bawah komando Liu Bei.


Nama Lengkap: Huang Hanshen
Lahir: A.D. 148
Meninggal: A.D. 221

Huang Zhong – :黃忠 (nama panggilan Hansheng) adalah seorang jenderal militer yang melayani panglima perang Liu Bei pada akhir Dinasti Han Timur. Ia terkenal karena kemenangannya di Pertempuran Gunung Dingjun (219), di mana dia dan pasukannya menyerang seorang jenderal Caocao yang terkenal, Xiahou Yuan, yang tewas dalam aksi serangan itu. Huang Zhong meninggal pada tahun 221 setelah terluka parah pada pertempuran yang terakhirnya ketika Kerajaan Shu melancarkan serangan ke Kerajaan Wu untuk membalas dendam kematian Guan Yu. Ketika itu dia sudah berusia lebih dari 70 tahun, karena hal itu keselamatannya sangat dikuatirkan oleh Liu Bei yang jarang mengirimnya ke pertempuran-pertempuran yang berbahaya. Huang Zhong selalu digambarkan dalam novel sejarah Roman Tiga Kerajaan sebagai seorang jenderal tua yang memiliki semangat muda dan konstitusi. Dia juga termasuk satu dari Lima Jenderal Harimau di bawah komando Liu Bei.

sumber
Tiga Negara / Sam Kok / Three Kingdoms

Mike Portal | Zaman Tiga Negara atau di kalangan Tionghoa di Indonesia, kisah ini dikenal dengan nama Samkok yang merupakan dialek Hokkian dari sanguo atau tiga negara.juga dikenal dengan nama Samkok (Hanzi: 三国時代; hanyu pinyin: sanguo shidai, bahasa Inggris: Three Kingdoms Era) adalah sebuah zaman (tahun 169-280 M) di penghujung akhir Dinasti Han di mana Tiongkok terpecah menjadi tiga negara yang saling bermusuhan.

Di dalam sejarah China biasanya hanya boleh ada kaisar tunggal yang dianggap menjalankan mandat langit untuk berkuasa, namun di zaman ini karena tidak ada satupun negara yang dapat menaklukkan negara lainnya untuk mempersatukan China, maka muncullah tiga negara dengan kaisar masing-masing. China akhirnya dipersatukan oleh keluarga Sima yang merebut kekuasaan dari negara Wei dan menaklukkan Wu serta mendirikan Dinasti Jin.

Peta Tiga Negara (Sam Kok)

Sering orang salah kaprah akan perbedaan Kisah Tiga Negara atau Kisah Tiga Kerajaan mengingat terjemahan bahasa Inggris dari roman ini adalah Romance of the Three Kingdoms, namun pada sebenarnya, yang tepat adalah Kisah Tiga Negara mengingat pada klimaks roman ini, ketiga pemimpin yang bertikai; Cao Cao (negeri Wei), Liu Bei (negeri Shu) dan Sun Quan (negeri Wu) masing-masing telah memaklumatkan diri sebagai kaisar dan mengklaim legitimasi sebagai kekaisaran yang mewarisi Dinasti Han yang telah runtuh.

Kisah Tiga Negara adalah salah satu karya sastra klasik yang paling populer di dalam sejarah Tiongkok. Ada sekitar lebih 400 tokoh sejarah yang diceritakan di dalam Kisah Tiga Negara yang dilukiskan dengan karakter berbeda. Cao Cao, Liu Bei dan Sun Quan sama sebagai karakter pemimpin namun berbeda dalam sifat dan pemikiran. Demikian pula penasehat Zhuge Liang, Guo Jia dan Zhou Yu masing-masing berbeda pandangan dan wataknya. Setiap karakter mempunyai watak dan sifatnya sendiri yang berbeda satu sama lain.


Negara Cao Wei
1. Cao Cao, raja perang, mempersatukan utara Tiongkok.
2. Cao Ren, jenderal perang, sepupu Cao Cao.
3. Cao Pi , anak Cao Cao, kaisar pertama Wei.
4. Cao Rui, cucu dari Cao Cao, pemimpin pengganti Cao Pi.
5. Sima Yi, penasehat militer, kakek Sima Yan kaisar pertama Jin.
6. Guo Jia, penasehat militer, mati muda karena sakit.
7. Jia Xu, penasihat militer.
8. Cheng Yu, penasihat militer.
9. Xun Yu, penasehat militer, handal dalam masalah pemerintahan.
10. Xiahou Dun, jenderal perang, kehilangan satu matanya karena dipanah.
11. Xiahou Yuan,jenderal perang, dikenal karena kemampuan memanahnya.
12. Zhang Liao, jenderal perang, mantan bawahan Lu Bu.
13. Dian Wei, pengawal pribadi Cao Cao, tewas demi melindungi kaburnya Cao Cao.
14. Xu Chu, pengawal Cao Cao, pengganti Dian Wei.
15. Yue Jin, jenderal perang.
16. Yu Jin, jenderal perang.
17. Cai Mao, jendral angkatan laut andalan Cao Cao.
18. Zhang Yun, jenderal angkatan laut andalan Cao Cao.
Negara Dong Wu
1. Sun Jian, panglima perang, penguasa Changsha, dikenal dengan sebutan “Macan dari Jiang Dong”.
2. Sun Ce, anak sulung Sun Jian, peletak dasar negara Wu, suami Da Qiao.
3. Sun Quan, adik Sun Ce, kaisar pertama negara Wu.
4. Sun Shan Xiang, adik Sun Ce, menikah dengan Liu Bei.
5. Lu Meng, penasehat militer, kemudian konon dibunuh oleh arwahnya Guan Yu.
6. Zhou Yu, penasehat militer, suami Xiao Qiao, mati muda karena sakit.
7. Lu Su, penasihat dan pengganti posisi Zhou Yu.
8. Zhuge Jin, penasehat militer, kakak Zhuge Liang.
9. Lu Xun, jenderal perang, memenangi pertempuran Xiaoting/Yiling.
10. Huang Gai, jenderal perang, pura-pura membelot ke Wei saat pertempuran tebing merah.
11. Gan Ning, jenderal perang, mantan bajak laut yang membunuh Ling Cao.
12. Taishi Ci, jenderal perang, pernah memerangi Sun Ce.
13. Lu Meng, jendral perang.
14. Xiao Qiao, istri Zhou yu dan adik Da Qiao.
15. Da Qiao, istri Sun Ce dan Kakak Xiao Qiao.
Negara Shu Han
1. Liu Bei, bangsawan masih keturunan Han, ingin meneruskan Dinasti Han.
2. Liu Chan, anak dari Liu Bei , ia menjadi kaisar kedua di Shu ketika Liu Bei meninggal.
3. Xu Shu, penasihat militer, pendahulu Zhuge Liang, nama lainnya Dan Fu
4. Pang Tong, adalah penasehat Liu Bei pada zaman Dinasti Han. Konon kemampuannya setara dengan ahli strategi Zhuge Liang.
5. Zhuge Liang, penasehat militer jenius, dijuluki ‘Naga Tidur’.
6. Jiang Wei, jenderal perang, membelot dari Wei, konon mewarisi sebagian dari keahlian Zhuge Liang.
7. Guan Yu, dikenal juga sebagai Guan Gong, adik angkat Liu Bei, salah satu dari Jenderal 5 Harimau.
8. Guan Xing, anak dari Guan Yu, mati muda karena sakit.
9. Guan Ping, anak adopsi Guan Yu, ia wafat bersama Guan Yu.
10. Guan Suo, anak dari Guan Yu.
11. Zhang Fei, adik angkat Liu Bei, seorang pemabuk berat, salah satu dari Jenderal 5 Harimau.
12. Zhang Bao, anak laki-laki Zhang Fei, mati di perang Wu Zhang.
13. Zhao Yun, jenderal perang, menyelamatkan Liu Chan sewaktu masih bayi di Chang Ban yang menjadi kaisar terakhir negeri Shu, salah satu dari Jenderal 5 Harimau yang berhasil bertahan hidup paling akhir.
14. Huang Zhong, jenderal perang, dikenal karena kemampuan memanahnya, salah satu dari Jenderal 5 Harimau.
15. Ma Chao, jenderal perang, anak Ma Teng, salah satu dari Jenderal 5 Harimau.
16. Wei Yan, jenderal perang yang berbakat, dekat dengan Liu Bei tapi tidak dipercaya oelh Zhu Geliang, akhirnya berkhianat di Wu Zhang.
17. Ma Dai, Jenderal perang Zhuge Liang, keponakan dari Ma Teng dan sepupu Ma Chao.
18. Huang Yue Ying, konon merupakan istri dari Zhuge Liang, pernikahan ini diinginkan oleh ayahnya.

Kisah sejarah Sam Kok ini ditulis oleh  Lou Guanzhong, seorang penulis terkenal pada zaman Dinasti Yuan. Kisah Samkok ini kemudian menjadi roman terpopuler di dunia yang bercerita mengenai perebutan kekuasaan, nilai persaudaraan, kejujuran, kesetiaan, pengabdian bertempur dengan pengkhianatan, ambisi, dan intrik yang saling tikam demi meraih kekuasaan. Kepopuleran novel ini termasuk salah satu dari Empat Novel Klasik China Yang Luar Biasa, yaitu Shuihu Zhuan (Water Margin), Xi You Ji (Journey To The West) dan Hong Lou Meng (Dream of Red Chamber) juga merambah ke dunia komik, film, animasi, dan juga games.

sumber
Empat Wanita Cantik Tiongkok 四大美人

Mike Portal | Dalam sejarah Tiongkok, Empat Wanita Cantik (Hanzi : 四大美人; pinyin : si da mei ren; kadang ditulis Hanzi : 四大美女; pinyin : si da mei ni) adalah empat wanita yang pada zaman dahulu terkenal karena kecantikannya. Walaupun nama mereka ada yang tercatat dalam sejarah tertulis, namun kisah mereka banyak yang sudah tercampur dengan cerita atau legenda rakyat. Menurut ceritanya, mereka adalah wanita-wanita yang paling cantik pada zaman nya di Tiongkok dulu.

Bukan hanya cantik, tetapi mereka juga memiliki pengaruh yang besar terhadap sejarah. Mereka menjadi terkenal terutama karena pengaruh kecantikan mereka terhadap para raja atau kaisar penguasa. Pengaruh mereka bahkan bisa menyebabkan keruntuhan dan perubahan pemerintahan. Walaupun begitu, kebanyakan kisah hidup mereka diakhiri dengan kesedihan ataupun tragedi; bahkan menyebabkan penderitaan bagi rakyat. Kecantikan tidak menjamin membawa kebahagiaan.

Empat wanita cantik hidup di empat dinasti yang berbeda, masing-masing terpisah selama ratusan tahun, dan memiliki kisah cerita yang berbeda-beda. Ke Empat Wanita Cantik ini adalah :


1. Xi Shi (西施)


Xi Shi hidup pada tahun 560 SM adalah salah satu tokoh dari empat wanita tercantik Tiongkok di penghujung Zaman Musim Semi dan Gugur 春秋(zaman penghujung Dinasti Zhou). Ia dilahirkan di sekitar Kuaiji (會稽), wilayah Zhejiang sekarang dengan nama Shi Yikuang (施夷光). Ia dipanggil Xi Shi karena ia tinggal di dusun bermarga Shi yang letaknya di sebelah barat dusun tetangga. Diceritakan bahwa Xi Shi tinggal Zhuji, ibukota negara Yue pada zaman musim semi dan musim gugur.

Saking cantiknya dia, dikatakan bahwa ikan-ikan juga nenenggelamkan/menyembunyikan diri karena malu saat dia sedang mencuci pakaiannya di sungai. Di kala itu negara Yue menjadi bawahan negara Wu dan harus membayar upeti karena kalah perang. Raja negara Yue, Gou Jian, yang pernah juga ditawan karena kalah perang, diam-diam merancang rencana pembalasan dengan siasat wanita cantik. Menteri negara Yue, Fan Li, kemudian mempersembahkan Xi Shi dan Zhen Dang (wanita lain) kepada Fu Chai, raja negara Wu pada tahun 490 SM.

Siasat wanita cantik itu berhasil, Fu Chai melupakan urusan pemerintahan negara dan membunuh penasehatnya sendiri, Wu Zixu yang mengkritik Fu Chai. Fu Chai bahkan menghamburkan sumber daya untuk mendirikan sebuah istana khusus untuk wanita-wanita cantiknya yang semakin memperlemah negara Wu. Tahun 473 SM, raja Gou Jian (negara Yue) menaklukkan tentara negara Wu. Fu Chai raja Wu kemudian bunuh diri.

Setelah Wu takluk, konon Gou Jian raja Wu memerintahkan Xi Shi untuk ditenggelamkan ke dalam danau agar dia tidak mengalami nasib seperti Fu Chai raja Wu yang mabuk akan kecantikan Xi Shi. Pada kisah lain diceritakan bahwa setelah Wu takluk, Fan Li pensiun dan membawa Xi Shi untuk hidup bersama dirinya. Fan Li kemudian mengganti namanya menjadi Tao Zhu Gong dan menjadi pengusaha yang sukses dan kaya raya.



2. Wang Zhaojun (王昭君)


Wang Zhaojun (nama lain Wang Qiang) hidup pada abad ke 1 Masehi, pada masa dinasti Han berkuasa. Ia adalah satu dari empat wanita cantik Tiongkok. Kecantikannya dikatakan dapat menjatuhkan burung-burung yang sedang terbang. Ia dilahirkan dalam keluarga berada di daerah yang sekarang terletak di kabupaten Xingshan, provinsi Hubei di wilayah selatan kerajaan Han barat. Dalam perjalanannya ke Xiongnu ia pun terkenal memakai jaket bulu sambil memetik alat musik pipa dan menunggang keledai. Gambaran inilah yang identik dengan Wang Zhaojun.

Pada tahun 38 M, Kaisar Yuan Di mengeluarkan maklumat kekaisaran untuk mengundang gadis-gadis cantik dari seluruh negeri ke istana. Dua tahun kemudian, sekitar tahun 40 Masehi, Wang Zhaojun dipanggil masuk dalam istana untuk melayani kaisar Yuan (Liu Shi) sebagai selir. Selama di istana, Wang Zhaojun tidak pernah sekalipun dikunjungi (dalam arti melayani/berhubungan seksual) oleh kaisar. Hal ini diceritakan karena kaisar memiliki selir baru yang akan melayaninya dengan cara melihat melalui lukisan wajah yang dibuat oleh seniman Mao Yanshuo. Wang Zhaojun konon tidak bersedia menyuap pelukis istana itu untuk melukisnya dengan cantik, sehingga si pelukis lalu melukisnya dengan jelek. Akibatnya kaisar menyangka bahwa Wang Zhaojun adalah wanita jelek dan tidak memilihnya.

Pada waktu itu terjadi konflik berkepanjangan antara kerajaan Han barat dengan suku Xiongnu (terutama Xiongnu barat). Suatu ketika pemimpin Xiongnu timur yang bersekutu dengan Han, Huhanye, datang ketiga kalinya Chang’an dalam rangka kunjungan penghormatan. Huhanye lalu meminta agar dia bisa menjadi menantu kekaisaran. Permintaannya tidak diluluskan, akan tetapi Huhanye diberikan kompensasi berupa selir-selir kaisar (terutama yang tidak dikunjungi kaisar). Wang Zhaojun adalah salah satu di antara mereka yang diberikan kepada Huhanye.

Dituliskan dalam Hou Han Shu, Wang Zhaojun sendiri secara sukarela mengajukan diri untuk dikirim ke Xiongnu karena dia kecewa menunggu. Lalu, kaisar Yuan yang baru pertama kalinya bertemu dengan Wang Zhaojun tertegun akan kecantikannya dan sangat menyesal bahkan sempat mempertimbangkan kembali keputusan untuk memberikan Wang Zhaojun kepada Huhanye. Namun akhirnya kaisar Yuan merelakan Wang Zhaojun demi persekutuan Han dan Xiongnu.

Wang Zhaojun kemudian menjadi selir kesayangan Huhanye dan melahirkan dua pangeran dan satu putri. Setelah Huhanye meninggal, Wang Zhaojun memohon agar dapat kembali ke China daratan, namun permohonannya ditolak kaisar Cheng (Liu Ao). Kaisar Cheng malah memerintahkan agar dia mengikuti tradisi Xiongnu untuk menikah dengan pemimpin Xiongnu berikutnya, putra tertua Huhanye. Dalam pernikahannya yang kedua, dia melahirkan 2 putri. Wang Zhaojun pun membantu Huhanye dalam mengembangkan kerajaan Xiongnu, maka itu orang Xiongnu sangat menghormati Wang Zhaojun.

Dalam legenda lain, diceritakan setelah permohonannya untuk kembali ke daratan ditolak kaisar Cheng, Wang Zhaojun bunuh diri sebagai upaya untuk menolak menikah lagi dengan anaknya sendiri. Karena Wang Zhaojun, selama sekitar 60 tahun terbentuk perdamaian antara Han dan Xiongnu. Pemerintah Tiongkok sekarang mempergunakan Wang Zhaojun sebagai simbol persatuan antara etnis Han dengan etnis minoritas lainnya.



3. Diao Chan (貂蟬)


Diao Chan dikabarkan lahir pada tahun 161 atau 169 Masehi, merupakan salah satu dari empat wanita cantik yang tercatat dalam sejarah kuno Tiongkok. Berbeda dengan ketiga wanita cantik lainnya, ia tidak tercatat dalam buku sejarah maupun catatan manuskrip apapun; ia bahkan dianggap sebagai tokoh fiksi yang dibuat oleh penulis novel Luo Guanzhong dari Dinasti Ming.

Dikatakan bahwa kecantikan Diao Chan dapat membuat awan-awan menutupi bulan purnama. Maksudnya kecantikan Diao Chan menutupi kecantikan bulan purnama. Diao Chan adalah pelayan Wang Yun yang telah dianggap seperti anak kandung sendiri. Wang Yun lalu memakai siasat wanita cantik dengan persetujuan Diao Chan sendiri untuk memecah-belah Dong Zhuo yang saat itu berkuasa sewenang-wenang dengan Lu Bu, panglima andalan sekaligus anak angkat Dong Zhuo sendiri.

Diao Chan juga dikabarkan muncul dalam sebuah Roman Kerajaan Tiga – Sam Kok (sebuah novel yang ditulis oleh Luo Guanzhong dari Dinasti Ming). Ia diceritakan membantu perwira Wang Yun dalam membujuk ksatria Lu Bu untuk membunuh seorang tiran, Dong Zhuo. Dalam upaya pembunuhan tersebut mengharuskan Diao Chan menjadi salah satu gundik/selir Dong Zhuo, walaupun sebenarnya ia adalah kekasih Lu Bu. Ia berhasil membuat keduanya cemburu dan saling bersaing hingga ke dalam sebuah pertempuran, misi Diao Chan saat itu pun dianggap berhasil.



4. Yang Guifei (楊貴妃)


Yang Guifei (nama lain Yang Yuhuan; Hanzi : 楊玉環) hidup pada tahun 719-756 Masehi, berasal dari Huayin, Hongnong. Ia hidup pada masa Dinasti Tang berkuasa. Dia menjadi yatim piatu pada usia yang terbilang muda. Ia kemudian tinggal bersama pamannya di Henan. Pada bulan 11 tahun ke 22 periode Kaiyuan (734 M), ia dijadikan selir Pangeran Shou, anak dari Kaisar Xuanzong, dari Dinasti Tang. Ia dikabarkan memiliki kecantikan yang membuat keanggunan dan pesona berbagai bunga tidak ada artinya. Ia adalah salah satu dari empat wanita tercantik dalam sejarah Tiongkok. Konon kecantikannya membuat bunga yang sedang mekar pun menjadi malu.

Yuan Guifei merupakan istri yang dicintai oleh Raja Tang, Kekaisaran Xuanzong. Ia terkenal akan hubungannya dengan Li Longji (Kaisar Xuanzong dari Tang), yang sebenarnya adalah mertuanya. Ia kemudian menjadi salah satu wanita terkuat di istana selama sejarah Tiongkok, tapi kemudian di esksekusi karena Pemberontakan Anshi yang memprotes kekuasaan keluarga Yang, terutama Yang Guozhong, sepupu Yang Guifei yang juga menjadi Perdana Menteri Tang pada saat itu. Meski demikian, ia adalah seorang “dewi” yang cantik, yang pernah hidup dalam mitologi Tiongkok.


sumber
Cheng Ho (Zheng He)

Mike Portal | Zheng He (鄭和), hidup pada tahun 1371-1433, memiliki marga asli Ma, bernama He, nama masa kecil Sanbao, juga disebut Sanbao, berasal dari Kunyang, Yunnan. Ia adalah seorang pelaut, diplomat dan kasim Dinasti Ming. Masa hidup kasim Muslim Zheng He adalah masa kebijaksanaan ekspansi maritim (Kaisar) Chengzhu dari Dinasti Ming.

Kebangsaan: Ming
Kaisar: Chengzhu
Keturunan: Semu ren (色目人), Hui
Kepercayaan: Islam, Buddha, Tao
Nama Asli: Ma He (disebut juga Ma Sanbao)
Nama Lain: Hajji Mahmud Shamsuddin (Bahasa Persia), Sonam Tashi (Bahasa Tibet)
Nama Yang Dikenal Umum: Kasim Sanbao
Nama Agama Buddha: Fu Jixiang
Lahir: 1371
Meninggal: 1433
Makam: Nanjing

Riwayat Hidup

Zheng He (di Indonesia lebih dikenal dengan nama Cheng Ho) adalah orang Suku Hui, nama Persianya adalah Haji Mahmud Shamsuddin, leluhurnya enam generasi yang lalu adalah Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar al-Bukhari, seorang aristokrat dari Asia Tengah yang datang pada awal Dinasti Yuan, ia adalah keturunan raja Bukhara, dan pernah menjabat sebagai xingfu pingzhang (pejabat setingkat gubernur) Propinsi Yunnan, setelah meninggal ia kemudian diberi gelar Raja Xianyang oleh Khubilai Khan. Saat Genghis Khan menyerbu ke barat, ia menyambut nya dengan memimpin seribu pasukan berkuda. Leluhur ketiga puluh enam Sayyid Ajjal adalah nabi pendiri Islam, Muhammad.

Kakek dari pihak ayah Zheng He, Bayan, pada tahun ke 11 Dade Dinasti Yuan (1307 M) menjabat sebagai zhongshu pingzhang, nenek buyutnya aslinya bermarga Ma. Kakek dari pihak ayah Zheng He adalah seorang haji, sedangkan nenek dari pihak ayah berasal dari Keluarga Wen. Nama asli ayah Zheng He adalah Milijin, nama Hannya adalah Haji Ma (Marga Ma adalah transliterasi nama Arab Muhammad dalam Bahasa China), ia mewarisi gelar Dianyang Hou, ibunya aslinya bermarga Wen. Klannya menyebut keluarga mereka Keluarga Xianyang.

Zheng He dilahirkan di tahun keempat Hongwu Dinasti Ming (1371 M), ia adalah anak kedua Haji Ma.

Rute Pelayaran Laksaman Cheng Ho (Zheng He)
Rute Pelayaran laksamana Cheng Ho (Zheng He)

Kepercayaan

Ma He adalah seorang Hui, tapi juga mempercayai Agama Buddha. Ahli Sejarah Ming (Ming Shi) Tuan Wu Han menjelaskan bahwa karena di banyak negara di Asia Tenggara agama Islam dan Buddha merupakan kepercayaan utama, pemerintah Ming memilih seorang Muslim supaya dapat ‘mengurangi kesalahpahaman dan melakukan tugas dengan baik’, selain itu dalam rombongan yang pergi ke Lautan Hindia terdapat para penganut Islam yaitu Ma Huan (penulis buku Yingya Shenglan tentang perjalanan Zheng He), Guo Chongli, ulama Masjid Agung Xian, Hasan, keturunan Pu Shougeng (pedagang Arab yang menetap di Quanzhou pada akhir Dinasti Song) dari Quanzhou, Pu Rihe, imam masjid Quanzhou, cucu Xia Bulu Han, Xia Wennan, dan lain-lain. Sebagai diplomat Zheng He mengambil kebijaksanaan untuk bersikap toleran dan hormat pada agama-agama lain.

Islam

Zheng He berasal dari keluarga aristokrat Muslim, kakek dari pihak ayah dan ayahnya adalah haji dan pernah berziarah ke Mekah. Zheng He pernah berdoa di makam orang suci Muslim di Lingshan, Quanzhou, dan pernah berdoa di masjid Jiuri Shan di Quanzhou. Pada tahun ke 11 Yongle (1413 M), Zheng He merenovasi Masjid Xian.

Buddha

Zheng He adalah murid Biksu Daoyan dan menyebut dirinya sendiri sebagai ‘Kasim Zheng He Pengikut Ajaran Buddha Dari Negara Ming Agung bernama agama Sunan Zhasi (速南吒释) dan Fu Jixiang” dan sebagainya. Dalam perjalanannya di Lautan Hindia, setiap kali tiba di negara Buddhis, ia selalu memberikan sumbangan pada kuil Buddha.

Taoisme

Karena para pelaut kebanyakan percaya pada Taoisme dan kepercayaan populer China, mereka sangat percaya pada dewi laut Mazu. Zheng He sering menyumbang kuil-kuil Mazu dan mendirikan kuil.

Kelenteng Sam Poo Kong
Kuil Laksamana Zheng He (Cheng Ho) bernama Klenteng Sam Poo Kong,
 yang terletak di kota Semarang, Indonesia

Kedatangan Laksamana Zheng He di Indonesia

Menurut cerita, sewaktu Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut Jawa, ada seorang awak kapalnya yang sakit. Karena itu ia memerintahkan untuk membuang sauh dengan menyusuri sebuah sungai yang sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Akhirnya Ia mendarat disebuah desa bernama Simongan dan memutuskan untuk menetap sementara waktu ditempat tersebut; sedangkan awak kapalnya yang sakit, dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan sebagai tempat untuk bersemedi dan bersembahyang. Lambat laun, akhirnya dia memutuskan untuk mendirikan sebuah masjid di tepi pantai tersebut, yang sekarang telah berubah fungsi menjadi sebuah kelenteng.

Kelenteng tersebut bernama Sam Po Kong (Gedung Batu) adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Orang Indonesia keturunan China menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng, mengingat bentuknya yang ber arsitektur China, sehingga jika dilihat mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang, serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana Zhang He adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap sebagai seorang dewa.

Keterangan:

Semu ren adalah salah satu dari empat golongan masyarakat di masa Dinasti Yuan yang terdiri atas orang-orang Arab, Persia, Tibet, Uygur dll. Kedudukan mereka dibawah Bangsa Mongol tapi diatas Bangsa Han Utara dan Han Selatan.

sumber
Tiga Masa Sejarah China Kuno

Mike Portal | Sejarah China Kuno mencatat bahwa China merupakan salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia. Dari daratan China, para arkeolog dan antropolog menemukan banyak fosil manusia purba. Usia fosil itu sangat tua yang pernah hidup sekitar 1,7 juta tahun lalu.

Berbicara tentang sejarah, sejarah China Kuno bisa jadi merupakan sejarah yang paling banyak dibicarakan. Mengingat usia yang sangat tua dan berbagai peninggalan sejarah yang berguna, pantas rasanya jika sejarah ini menjadi salah satu sejarah yang cukup terkenal.

Menjadi masyarakat China sepertinya merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Di luar hal-hal buruk yang terjadi di negara ini nyatanya China memiliki sejarah peradaban yang sangat menarik. Sejarah China kuno sangat "diperhitungkan". Siapa yang tidak bangga jika mengetahui sejarah negaranya menjadi salah satu cerita sejarah yang berpengaruh di dunia? Dengan begitu, secara emosional kita pasti akan merasa menjadi sebuah negara yang besar.

Sejarah China Kuno - Asal Muasal Negeri China

Sejarah China kuno bermula dari asal mula nama China itu sendiri. Sebutan China diberikan oleh orang-orang Barat yang sebelumnya disebut dengan nama Bangsa Tengah. Daratan China yang berada di Tengah Asia Timur berawal dari peradaban masyarakat di sekitar Sungai Kuning. Kurang lebih 4300 tahun lalu, di sana, ada suku yang dipimpin oleh dua orang pemimpin besar. Dua pemimpin itu bernama Yan-Di dan Huang-Di.

Yan-Di dan Huang-Di kemudian bekerja sama untuk membangun sebuah bangsa yang besar. Berkat kerja keras mereka, terbentuklah sebuah bangsa yang mereka beri nama Bangsa Hua. Hua punya arti yang sangat indah yaitu 'bunga dan keindahan'. Dengan semangat membangun sebuah bangsa yang besar, sejarah China kuno pun dimulai.

Sejarah China kuno pun berlanjut, sekitar abad ke-21 SM, seorang penguasa besar bernama Qi (putra Yu) membangun kerajaan yang diberi nama Kerajaan Xia. Besarnya pengaruh Kerajaan Xia menyebabkan bangsa Hua memiliki nama lain, yaitu Xia. Seiring berjalannya waktu, bangsa tersebut mengganti namanya dengan sebutan Bangsa Tianxia. Nah, dari Bangsa Tianxia iniliah mereka menyebut dirinya Bangsa Tengah. Dan oleh orang Barat, sebutan Bangsa Tengah ini berubah menjadi China.

Sejarah China Kuno dari Masa ke Masa

Secara garis besar, sejarah China kuno dibagi ke dalam tiga masa. Masa pertama disebut “the age of myths”, yakni masa sebelumnya hingga masa Dinasti Shang. Masa kedua disebut “the age of feudal states”, yakni masa kekuasaan Dinasti Zhou. Masa ketiga disebut “the age of empires”, yakni terjadi pada masa kekuasaan Dinasti Qing hingga kekuasaan Dinasti Ming.

Ketiga masa tersebut menjadi sebuah fase penting dalam cerita sejarah China kuno. Tidak bisa dihilangkan dan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat China. Karena fase itulah yang hingga akhirnya berhasil membawa masyarakat China pada keadaan seperti sekarang ini.

Dalam sejarah China kuno juga diceritakan bahwa sebelum Dinasti Shang berkuasa, telah ada Kerajaan Xia yang berdiri pada 2100 SM hingga 1600 SM. Sebenarnya, ada perbedaan pendapat mengenai kapan waktu Dinasti Xia ini berkuasa. Berdasarkan perhitungan Liu Xin, Xia berkuasa sejak 2205 SM dan berakhir pada 1766 SM.

Namun, di dalam Sejarah Bambu, tertulis bahwa pemerintah Xia berkuasa sekitar 1989 SM hingga 1558 SM. Lain lagi yang dilaporkan dari hasil penelitian Proyek Kronologi Xia Shang Zhou yang diadakan oleh pemerintah RRC, mereka berpendapat bahwa Xia berkuasa sekitar tahun 2070 SM dan 1600 SM. Perbedaan catatan mengenai sejarah China kuno memang wajar terjadi. Mengingat versi yang datang dari berbagai sumber juga bisa berbeda.

Jangan heran jika pada kenyataannya, sejarah China kuno banyak menyuguhkan cerita-cerita tentang kerajaan dan dinasti, karena hal tersebut memang telah menjadi identitas negara ini. 

Masih menurut cerita sejarah China kuno, setelah Kerajaan Xia berakhir, muncul dinasti pertama di China, yaitu Dinasti Shang yang berkuasa antara 1600 SM hingga 1046 SM. Dinasti Shang pernah dipimpin oleh sekitar 31 orang raja. Raja pertama mereka bernama Raja Tang dan raja terakhirnya bernama Raja Zhou. Menurut beberapa keterangan, masyarakat China pada masa Shang memiliki kepercayaan terhadap banyak dewa. Mereka percaya kepada dewa tertinggi bernama Shang-Ti.

Para ahli arkeolog menemukan tulang orakel yang digunakan masyarakat China pada 1500 SM untuk memprediksi masa depan. Temuan tulang orakel itu menjadi bukti keberadaan Dinasti Shang periode kedua. Penemuan ini merupakan bagian kecil dari penemuan dalam perjalanan sejarah China kuno. Masih banyak penemuan-penemuan lain yang juga cukup penting.

Dinasti Shang runtuh sejak kalah dalam pertempuran Muye melawan Wu Wang, seorang penguasa Zhou. Maka, sejak itulah berdiri kekuasaan Dinasti Zhou yang disebut “the age of feudal state”. Kekalahan Dinasti Shang ini juga menjadi sebuah jalan cerita menarik dalam sejarah China kuno yang panjang.

Dalam sejarah China kuno, disebutkan bahwa Dinasti Zhou merupakan dinasti yang paling lama berkuasa di China. Berdasarkan penilitian Proyek Kronologi Xia Shang Zhou, Dinasti Zhou berkuasa sejak 1046 SM dan berakhir pada 256 SM.

Masa ketiga yang disebut “the age of empires” sejarah China kuno ini terjadi saat kekuasaan Dinasti Ming hingga Dinasti Qing. Dinasti Ming berkuasa antara 1368 hingga 1644. Dinasti Ming berdiri karena hasil pemberontakan terhadap Dinasti Yuan pada 1368. Pemberontakan itu berasal dari kaum petani yang tidak puas dengan kekuasaan Dinasti Yuan. Zhu Yuanzang dari suku Han merupakan dalang pemberontakan tersebut. Pada masa inilah, pembangunan tembok China diselesaikan.

Jika berbicara tentang peninggalan sejarah China kuno, tembok besar China sepertinya menajdi peninggalan terbesar dari peradaban itu. Keberadaan tembok besar China tersebut hingga kini bahkan tetap membekaskan kekuatan sebuah bangsa.

Warisan sejarah China kuno ini memiliki panjang yang bahkan bisa terlihat hingga luar angkasa. Perlu diketahui bahwa sesungguhnya, tembok besar China sesungguhnya adalah gabungan tembok-tembok pendek yang mengikuti jalur pegunungan di China. Yang membuat ini istimewa adalah jaraknya yang luar biasa panjang. Panjang tambok ini mencapai 8. 851 km. Sebuah panjang bangunan yang sangat menakjubkan untuk masyarakat yang hidup di awal tahun 1000-an.

Sejarah China Kuno - Akhir dari China Kuno

Akhir dari sejarah kuno China adalah masa Dinasti Qing. Inilah kekuasaan feodal terakhir yang berkuasa di China. Dinasti Qing berkuasa setelah Dinasti Ming hancur karena kalah perang melawan suku Manchu pada 1644. Dinasti Qing berkuasa sekitar 1644 dan berakhir pada 1911.

Setelah Dinasti Qing berakhir, berakhir jugalah sejarah China kuno. China memasuki era modern dengan mulai menghapus sistem feodal kerajaan. Sun Yat-Sen berhasil memprovokasi rakyat China untuk mengadakan revolusi yang mengakibatkan turunnya Kaisar Xuantong, penguasa Qing, pada 12 Februari 1912. Setelah kekuasaan feodal berakhir, China menerapkan sistem negara Republik China. Sun Yat-Sen kemudian diangkat menjadi presiden pertama Republik China.

Sejarah China kuno yang memang identik dengan kekaisaran dan dinasti serta kerajaan ternyata menjadi hal yang dianggap menarik bagi sebagian sineas. Berbagai film bertemakan kerajaan China kuno pun banyak diproduksi, salah satunya adalah Curse of The Golden Flower.

sumber
Ernest Prakaya (Stand Up Comedy)

Mike Portal | Saya harus katakan dengan tulus hati, bahwa kemampuan melawak kho Ernest meningkat tajam. Retoriknya tidak lagi mengada-ada dan agak dipaksakan. Tetapi lebih mengalir dan terasa nyata. Adalah sebuah momen yang tepat, saat imlek tahun ular yang lalu Ernest dan komplotannya tampil. Haha.. Bahkan, yang jauh lebih menyentuh saat komplotannya itu menyajikan lawakan dengan basis budaya yang sangat segar. Maksud saya adalah, mereka -termasuk Ernest- memberikan cakrawala baru tentang etnis Tionghoa. Mengenalkan, sekaligus bercerita lucu-lucu tentang orang Tionghoa d/h disebut orang Cina.

Saya meyakini, tampil di stand up bukan sesuatu yang mudah. Seperti lazimnya orang Tionghoa dan keturunannya, Ernest tekun berlatih dan menyiapkan diri dengan cermat. Sesuatu yang jamak kita temui pada orang-orang Tionghoa di Indonesia. Disiplin dan penuh dengan ketekunan. Itulah yang saya perhatikan dari setiap momen stand-up Ernest.

Mengenalkan kebudayaan Tionghoa melalui jalur lawak gaya baru macam stand-up adalah hal yang baru. Dibutuhkan keberanian, tapi yang paling bagus, dibutuhkan lebih banyak riset. Ada disparitas yang ketara antara beberapa suku jenis Tionghoa. Saya ambil contoh. Suku Hakka (Khe) sangat berbeda dengan suku Hainan, Tiochiu, Hokcia,Hokkien, dan Kantonis. Mulai dari family name, maupun gradasi warna kulit, bahkan tingkat kesipitan mata. Hahaha…

Lewat punch-punch (lontaran/celetukan kalimat lawak) mereka bertumbuh. Mereka memancing tawa. Tapi yang jauh lebih penting dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, mereka menjaring pasar. Apa maksudnya menjaring pasar? Mereka mengenalkan sudut lain dari kebudayaan Tionghoa kepada seluas-luasnya masyarakat Indonesia.


Berasimilasi
Saya lebih suka terjemahan bebas asimilasi adalah adaptasi. Yaitu proses penyesuaian diri yang terus-menerus dilakukan. Fokusnya -bila terkait stand up- adalah menyederhanakan materi lawak, sehingga mudah dimengerti oleh awam atawa pribumi.

Fokus yang saya maksud penting, karena ada gap yang cukup besar dalam memahami kebudayaan Tionghoa. Baik oleh orang Tionghoanya sendiri, maupun oleh orang pribumi. Sehingga ada jeda yang cukup panjang untuk memahami esensi setiap lawakan yang ditampilkan. Jika yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ada gap yang besar antara pribumi dan Tionghoa. Saya anjurkan Ernest dan komplotannya untuk mencari tahu di Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Maksud saya adalah, supaya lawakan tentang Tionghoa dan pembawaan Tionghoa bisa dinikmati dan dipahami oleh banyak orang. Tidak mudah. Saya yakin tidak mudah. Tapi bukan hal yang mustahil. Soalnya saya berpikir ada idiom-idiom dan lawakan-lawakan spesifik yang hanya dipahami bila kita bergaul di dalam komunitas Tionghoa. Komunitas Tionghoa sendiri basisnya adalah tempat keagamaan (gereja, vihara). Kemudian bisnis (toko, pasar),  komunitas sekolah dan pemukiman, dan keluarga (satu nama marga). Di luar yang saya sebutkan, agak sulit melihat orang Tionghoa bergaul dengan strata sosial yang lebar. Baik tetangga, maupun dengan bawahan/karyawan. Jadi wajar bila streotipe yang salah muncul.

Semogalah stand up comedynya Ernest bila menetralisir streotipe yang salah tersebut.


Persetan dengan minoritas - mayoritas!


Saya tidak ingin terjebak pada dikotomi dan dualisme minoritas-mayoritas. Itu adalah dikotomi klasik. Yang kehadirannya senantiasa terwujud pada lawakan-lawakan Ernest dan komplotannya. Saya menghimbau dan berharap agar Ernest mau menggali lebih dalam lagi realitas sosial masyarakat Tionghoa. Bisa lewat interaksi sosial antar suku, status sosial, maupun lintas budaya, entah itu engkong dengan cucu, maupun mertua dengan menantu. Jika kita merujuk pada cerita-cerita masa lalu di koran-koran Batavia. Banyak sekali bahan yang bisa dijadikan acuan dalam melawak. Atau jika terlalu lama, tidak ada salahnya bergaul dengan orang-orang Tionghoa yang ada di pasar/ toko. Sehari-hari mereka punya banyak cerita lucu saat berinteraksi dengan pelanggan.

Tidak harus terpaku pada penderitaan etnis Tionghoa yang terus-menerus didiskriminasi. Tidak salah sih, tapi seperti mengutip kata-kata Anggun C Sasmi, ‘nyebelin!‘. Namun saya tetap kagum dan menaruh respek yang besar pada usaha Ernest dan komplotannya.




Bravo Ernest!

Penulis Astro Dono

sumber
Pesan Moral Gus Dur

Mike Portal | Ketajaman Gus Dur endus China
Aksi boikot guanxi terasa pasca kerusuhan Mei 1998

Ahad pekan lalu masyarakat Indonesia merayakan 40 hari wafatnya Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid.

Mantan orang No. 1 yang akrab disapa Gus Dur itu meninggalkan kita pada 30 Desember 2009. Ia kembali ke bumi pertiwi, tempat nenek moyangnya pada sekitar 1700-an menjejakkan kaki di Jombang, Jawa Timur.

Salah satu citra Gus Dur yang tak mudah lekang dari ingatan ialah tindakannya yang kerap out of the box. Lawatan ke luar negeri pertama dilakukannya bukan ke Amerika Serikat atau Eropa, tetapi justru ke Republik Rakyat China (RRC). Ini tidak biasa, sebab biasanya presiden negara berkembang melawat ke negara adidaya, membangun persekutuan.

Banyak orang mencibir tindakannya waktu itu (1999) karena dianggap nyleneh. Ketika konferensi pers pertama usai terpilih jadi presiden, Gus Dur menjelaskan latar dan alasannya mengunjungi China. "RRC negara besar dan sangat potensial dari segi ekonomi. Jadi, kita justru rugi tidak berhubungan dengan China," tegasnya.

Dalam konferensi itu pula, seorang wartawan istana sempat nyeletuk, dengan membeberkan sejarah diplomasi RI-RRC yang tidak begitu mulus sejak 1965. Gara-garanya, Peking (sekarang Beijing) diduga kuat oleh pemerintah Orba terlibat dalam G-30-S/PKI, terutama karena menyuplai senjata untuk membantu pemberontakan PKI waktu itu.

Lagi-lagi, Gus Dur menepis, keterlibatan RRC itu hanya sebatas asumsi, belum tentu benar. Berdasarkan alasan rasional sebagaimana yang dikemukakannya, Gus Dur justru balik bertanya, "Kalau kini saya membuka kembali hubungan dengan China, mengapa tidak boleh?"

Gus Dur tetap Gus Dur, sulit dibaca dan ditebak. Ia kokoh dalam pendirian dan terus ngotot pada keyakinan yang dianggap benar.

Hubungan khusus

Secara genealogis, Gus Dur mempunyai hubungan khusus dengan China. Sejarah mencatat, salah seorang keturunan raja Majapahit pernah mempersunting putri raja Campa. Dari buah perkawinan itu, lahirlah Tan Kim Ham, alias Abdul Kadir. Dari garis keturunan Abdul Kadir lahir Sunan Ampel yang melahirkan K.H. Hasyim Asyari, kakek Gus Dur. Ini dicatat dalam buku Yan Bin's Genealogy 1770-2004 (2004) yang diterbitkan Paguyuban Keluarga Keturunan Gan, di mana Gus Dur dan Yenny Wahid aktif di dalamnya.

Itulah sebabnya, Gus Dur membela mati-matian etnis China yang, ketika Orde Baru berkuasa, secara politis dipinggirkan. "Orang yang membenci etnis Cina (baca: Tionghoa)  tidak tahu sejarah. Sebab kalau mau ditelusuri, kita semua keturunan China," kata Gus Dur waktu itu.

Pernyataan Gus Dur kontan membuat orang terperangah. Maka ia pun menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Dan membolehkan kembali simbol serta atribut China berkibar di Nusantara.

Namun, Gus Dur mengajak bangsa Indonesia rekonsiliasi dengan China bukan semata-mata karena ia sendiri keturunan China. Lebih dari itu. Gus Dur melihat, pada masa-masa mendatang China sebagai suatu jaringan (networking/guanxi) perlu dirangkul untuk membangun kembali perekonomian Indonesia yang baru saja dilanda krisis hebat.

Dan kini, ketika area perdagangan bebas Asean-RRC dibuka, hubungan dengan China tidak bisa dinafikan. Gus Dur sudah sejak awal menyiapkan masuknya pengaruh China, bukan saja dari sisi budaya, tapi juga ekonomi dan bisnis.

Gus Dur mafhum, sebagai guanxi, kekuatan China sangat diperhitungkan di mana-mana, di seantero dunia. Studi tentang hal ini, antara lain dilakukan Gary Hamilton (1989). Ia sampai pada simpulan, guanxi memainkan peranan besar dalam kapitalisme di tiap-tiap negara-negara (waktu itu disurvei negara-negara industri baru atau NICs).

Bahkan futurolog John Naisbitt melihat guanxi adalah model kapitalisme di Asia. Dalam buku Megatrends Asia (1996) Naisbitt menyebut kecenderungan besar akan terjadi di Asia, yaitu adanya perubahan paradigma negara-bangsa (nation state) menuju networking.

Seperti juga Gary Hamilton dan Niasbitt, Gus Dur pun meyakini guanxi. Itu sebabnya, ketika orang ramai-ramai mengiritik ia banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke luar negeri, Gus Dur enteng menjawab bahwa orang yang mengritiknya tak paham apa yang dikerjakannya. Atas kritikan itu, Gus Dur bergeming dan tetap pada pendiriannya: kalau mau selamat, guanxi perlu dirangkul.

Keyakinan diimbuh data dan fakta, membuat Gus Dur memprioritaskan kunjungannya ke China. Kunjungan itu, mencairkan kembali hubungan diplomatik Indonesia-RRC, setelah sekian lama beku akibat kebijakan politik luar negeri Indonesia semasa Orba. Sekaligus Gus Dur menepis opini umum yang mengatakan, selama ini Indonesia secara sistematis telah melakukan diskriminasi rasial.

Apalagi, kerusuhan Mei 1998 seakan-akan membenarkan, memang terjadi apa yang disebut sebagai gerakan etnic cleansing (peminggiran etnis) China di Indonesia.

Aksi boikot para guanxi sangat kita rasakan pascakerusuhan Mei 1998. Ratusan triliun rupiah dana segar milik para taipan, yang notabene keturunan Cina (Tionghoa), keluar dari Indonesia saat itu. Ini membuat ekonomi kita yang terpuruk sejak 1997 jadi makin ambruk karena adanya capital outflow.

Pelarian modal keluar negeri ini, antara lain ke Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan RRC sendiri; selain sebagai akibat perasaan was-was akan situasi di Indonesia, juga sebagai aksi protes atas dugaan praktik "etnic cleansing" yang dirasakan kaum minoritas pada Tragedi Mei 1998.

Dana segar itu, kemudian menumpuk di Singapura. Dengan mudah membuat para guanxi "mengobok-obok" rupiah, sehingga nilai tukar atas US$ semakin anjlok. Kejadian itu membuat kita merasa kecil di hadapan sebuah jaringan bernama guanxi, sekaligus menjadi warning bagi kita untuk tidak memandang sepele etnis China lagi di bumi pertiwi karena mereka memiliki jaringan luar biasa.

Masih segar dalam ingatan kita, usai tragedi Mei 1998, sebagai ketua PBNU waktu itu, Gus Dur menyerukan kepada keturunan China yang berada di luar negeri untuk segera kembali ke Indonesia. Gus Dur juga menjamin keselamatan mereka. Dan kepada warga pribumi, dihimbau agar mau membaur dengan warga keturunan.

Rekonsiliasi nasional yang sejak awal dikumandangkan Gus Dur, semakin mendapatkan implementasinya begitu ia dipilih jadi presiden. Untuk memulihkan ekonomi nasional, langkah pertama yang ia lakukan adalah memanggil kembali para pemilik modal agar mau berinvestasi di Indonesia. Gus Dur yakin, suatu pemerintahan yang tidak menerapkan politik rasialis, akan membuat para guanxi merasa aman menanam modal di Indonesia.

Ini pertimbangan ekonomis kunjungan beliau ke China. Dan waktu kemudian membuktikan, Gus Dur yang dianggap nyleneh, ternyata benar. Ia seorang visioner. Butuh waktu 10 tahun agar mata awam tercelik melihat apa yang ia lakukan.

Oleh R. Masri Sareb Putra
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara


sumber
Peta Kekuasaan Dinasti Han

Mike Portal | Ketika membaca sejarah Tionghoa Indonesia, saya menemukan satu paragraph menarik yang menceritakan adanya keturunan dinasti Han di pulau Jawa sejak jaman Han. Sebelum menarik kesimpulan benar atau salah paragraph yang akan saya tuliskan di bawah dan sambil menanti datangnya buku “Notes Yong An” 庸庵筆記yang menuliskan itu, kita perlu bersikap arif dengan tidak mengenyampingkan kemungkinan benarnya juga ada kemungkinan salahnya, bergerak terus dalam tafsir menafsir, di dalam pergerakan itu akan melahirkan wawasan baru dan wacana baru hingga nantinya mungkin bisa terhenti, pembedahan teks ke teks, kedalaman isi teks, komparasi hingga objek situs jika ada dan sebagainya. Derrida mengatakan bahwa bahasa adalah intensionalitas kita perlu sadari bahwa segala sesuatu adalah teks, yang bisa dibaca dalam perspektif bahasa.

Sekilas sejarah penulis “Notes Yong An”. Pada masa dinasti Qing, Xue Chengfu 薛成福 ( 1838-1894 ) adalah seorang pejabat tinggi kerajaan Qing yang menjadi murid Zeng Guofan 曾國藩, sempat menjadi duta Qing di empat negara Eropa. Salah satu yang menarik adalah desakannya kepada Inggris agar mengijinkan kerajaan Qing untuk membuka konsulat di wilayah Asia Tenggara dan Burma.
Sekilas isi yang dikutip oleh prof.Huang Kunzhang 黃昆章 dalam “Sejarah Tionghoa Indonesia” dan diterjemahkan secara bebas oleh saya.

 Pada masa dinasti Han Timur, di Dinghai 定海( skrg. Kabupaten Zhen Hai 鎮海Provinsi Zhejiang 浙江 ) ada seorang pelajar ( 茂才 ) yang ditangkap oleh penjahat dari Nan Yue 南粵 ( Guangdong Selatan ), setelah berhasil melarikan diri, ia menjadi pedagang, ketika ia berlayar ke Singapore, terkena hantaman angin topan dan terombang ambing hingga pulau Jawa, disana ia menetap selama 5 tahun baru kembali ke Tiongkok.

Orang Dinghai ini pernah berkata kepada orang lain bahwa di pulau Jawa wilayah selatan ada perkampungan dan bernama kampung marga Liu 劉莊, disana yang tinggal ada sekitaran ribuan keluarga dan semua bermarga Liu. Mereka berkumpul dan menetap disana, karena mereka adalah keturuan kaisar Huidi 惠帝 ( 194 BCE-199 BCE ).

Dia juga mengatakan bahwa orang kampung Liu itu hendak menulis ulang dan menata kembali buku marga Liu, minta ia membuat kerangkanya. Ia kemudian membuka halaman pertama dari buku marga Liu, dilihat di dalamnya asal muasal klan marga Liu di Jawa : Saat masa kaisar Hui, ibusuri Lv sakit keras, ia ( Lv ) memberikan kekuasaan pada marga Lv.

Setelah ibu suri Lv meninggal, para pejabat kemudian membunuh orang-orang ibusuri, bahkan membunuh anak Huidi, yakni Shaodi 少帝. Istri Shaodi, permaisuri Zhang menyuap para kasim, bayi yang berumur 3 tahun, anak Shaodi digendong keluar dari istana di malam hari. Diberi kepada adik pemaisuri Zhang yang bernama Zhang Yan 張偃 yang kemudian memeliharanya diam-diam.

Saat raja Yue Selatan 南粵王 Zhao Tuo 趙佗 mengirim upeti ke istana, Zhang Yan memanfaatkan itu dengan mengirimkan ke Nan Yue. Zhao Tuo saat mengetahui anak itu adalah cucu pertama dari Huidi, iapun member jabatan dan tanah kepada anak itu. Tapi saat setelah bergenerasi-generasi ( tulisannya belasan generasi ), tanah pemberian itu sudah melenyap, yang mengakibatkan keturunannya menjadi rakyat biasa.

Keturunannya bertambah banyak, walau sudah berpindah, tapi selama 2000 tahun ini buku marga Liu masih bisa dicek. Dalam rumah abu marga Liu di pulau Jawa, masih menyimpan 3 buah pusaka, pertama adalah cap kerajaan kecil istana Han 漢宮小玉禧, kedua adalah kaca perunggu kuno, satunya adalah giok Ruyi. Ke 3 pusaka ini adalah kenang-kenangan dari permaisuri Zhang untuk anaknya, yang kemudian menjadi pusaka warisan keluarga. Rumah abu Liu amat luas, depan altar Di zi 帝子 ( Shao di 少帝 ), belakang  altar Huidi dan permaisuri Zhang.

Walau terdengar menggelikan dan kekurangan catatan sejarah, tapi kita tidak bisa menutup kemungkinan dari legenda ini bahwa jaman Han dahulu sudah ada orang Tionghoa yang tinggal di pulau Jawa. Dan beberapa penggalian arkeologis dan catatan sejarah sudah membuktikan adanya hubungan antara Tiongkok dan tiga pulau utama Indonesia. Hanya yang perlu dicari adalah rumah abu marga Liu yang ditulis oleh Xue Chengfu itu ada dimana ? Apakah ada cap istana ? Apakah ada cerita pendukung atau catatan pendukung ? Kronologisnya menurut versi lain seperti apa ? Ini bisa menjadi bahan diskusi atau juga bisa menjadi dongeng tertawaan, tapi perlu diingat bahwa kemungkinan wacana baru, apakah pada masa dinasti Han sudah ada orang Tionghoa  yang menetap di Indonesia ?


Ardian Cangianto

sumber
Ahok Tanggapi Wawancara terkait Prabowo Subianto

Mike Portal | Tragedi Mei 1998 yang menjadi titik reformasi Indonesia ternyata juga dirasakan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Terlebih saat peristiwa tersebut, tak sedikit yang berdampak pada warga keturunan.

Saat itu, Basuki yang bertempat tinggal di Pluit menjadi saksi saat salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Karawaci, Tangerang, dibakar dan dijarah oleh massa.
Istri Basuki, Veronica Tan, sedang mengandung berusia lima bulan anak pertamanya. Dalam keadaan Indonesia yang chaos itu, Veronica terus membujuk Basuki untuk keluar dari Indonesia karena situasi saat itu yang ia takutkan dapat berdampak negatif pada kondisi psikologis jabang bayi.

"Akhirnya, saya putuskan untuk tidak mengungsi dan saya putuskan untuk tidak keluar dari Indonesia. Pokoknya pertahankan sampai titik darah penghabisan karena yang harusnya keluar itu mereka yang tukang rusuh," kata Basuki, di Balai Agung, Balaikota Jakarta, Minggu (19/5/2013).

Pria yang akrab disapa Ahok itu pun memberanikan diri untuk mengendarai mobil dari Karawaci hingga rumahnya di Pluit, Jakarta Utara. Sepanjang jalan itu, tak henti-hentinya terjadi pembakaran ban, mobil, toko, dan sebagainya.

Saat itu, Basuki berpikir kalau memang ada hal yang tidak mengenakkan, ia telah mengikhlaskan agar satu keluarga meninggal bersamaan, bukan terpisah. Dengan itu, kata dia, mereka akan meninggalkan dunia dengan nama dan membuktikan tidak ada peluang provokator untuk memengaruhinya. Beruntung mobil Basuki tidak diberhentikan secara paksa dan ia bersama Veronica selamat hingga tujuan.

Akhirnya, pada September 1998, Veronica dan Basuki dikaruniai anak laki-laki pertama mereka dan diberi nama Nicholas Sean yang memiliki arti "memenangkan hati rakyat".
Oleh karena itu, Basuki mengimbau kepada semua pihak agar tidak melupakan peristiwa Mei 1998. Saat itu, Basuki pernah berpikir bahwa ia bersama keluarga lebih baik mengungsi ke luar negeri untuk menghindari diskriminasi terhadap mereka. Namun, ia diingatkan oleh ayahnya untuk tetap menetap di Indonesia karena ayahnya meyakini kalau Basuki dibutuhkan warga Indonesia, terutama untuk membela warga minoritas.

"Rakyat butuh kamu, jangan pergi. Satu hari kelak memperjuangkan hak mereka," kata ayahnya dikutip Basuki.
Akhirnya, pada tahun 2005, Basuki berhasil menduduki posisi Bupati Belitung Timur, di mana warga daerah tersebut 93 persen Muslim. 
"Yang penting sekarang, menangkan hati rakyat dan tidak membedakan SARA. Jangan sampai peristiwa 1998 ini terjadi lagi. Kalau kita lupa, pasti peristiwa itu akan terulang lagi," kata Basuki.

Penulis : Ina Maharani
Editor : Ina Maharani

sumber
Peta Kekuasaan Dinasti Ming

Mike Portal | Setelah berhasil mengusir bangsa Mongol, Zhu Yuanzhang menobatkan dirinya sebagai kaisar dengan gelar Ming Taizu (1368-1398). Tahun pemerintahnnya disebut dengan Hongwo, sehingga ia juga dikenal sebagai sebutan Kaisar Hongwo, dan dinasti barunya Dinasti Ming.

Zhu Yuanzhang digantikan oleh cucunya bernama Zhu Yunwey dengan gelar Jianwen (1399-1402). Tetapi pada saat itu, kekuasaan berada di tangan putra-putra Zhu Yuanzhang. Kaisar Jianwen berusaha mengendalikan para pamannya itu dengan jalan membatasi kekuasaan mereka, tetapi usahanya ini mendapat tentangan keras. Akibatnya, timbul perang saudara selama 4 tahun anatara kaisar dengan paman-pamannya. Dari segala kepandaiannya, kaisar bukanlah tandingan pamannya yang bernama Zhu Di (putra keempatnya Zhu Yuanzhang).

            Zhu Di mengangkat dirinya sebagai Kaisar Yongle (1403-1424) yang berarti “Kebahagian Abadi”. Pelayan samudra merupakan salah satu hal yang patut di banggakan pada masa dinasti Ming. Kaisar Yongle telah memerintah Admiral Zheng He untuk mengadakan pelayaran ke selatan menuju negeri-negeri yang jauh. Ia berhasil berlayar sejauh Afrika (Mogadishu dan Malindi), kalkuta, dan Kalombo jauh sebelum bangsa baarat berhasil mencapainya. Yongle digantikan oleh putra tertuanya yaitu Hongxi (1425) hanya memerintah setahun.

Pengganti Hongxi adalah cucu Yongle yang bernama Zhu Zhanji yang gelarnya sebagai Xuande, memrintah pada tahun 1426-1435. Ia dapat dikatakan sebagai seorang penguasa yang sempurna karena piawi dalam bidang kemilimiteran, administrasi pemerintahan dan seni. Masa pemerintahan Xuande boleh dikatakan cukup stabil. Kemakmuran dan kesenian berkembang pesat. Sebagai seorang reformis, Xuande berusaha memerangi ketidak adilan, menetang hukuman matim serta mendorong dihapuskannnya hukuman kurungan bagi orang miskin yang tidak mampu membayar utang-utangnya. Keselahan terbesar yang dilakukan Xuande adalah andilnya dalam meningkatkan kekuasaan kaum Keberi, di mana ia mendirikan sekolah khusus bagi mereka yang mengangkat mereka sebagai penasehat militernya. Ia juga sering memerintahkan kepada kasimnya untuk mencari benda-benda aneh, benda-benda langka dan bahkan cengkrik aduan yang selalu menang. Kaum keberi diutusannya pula mencari gadis-gadis Korea yang terkenal kecantikannya untuk dijadikan selir.

Xuande adalah kaisar pertama Dinasti Ming yang sungguh-sunggguh melindungi seni. Sebagai seorang pelindung seni, dikumlpulkan para seniman dari berbagai penjuru dan memerintahkan agar menghiasi makam-makam leluhurnya. Ketika Xuande wafat, sepuluh orang selir ikut dikuburkan bersamanya.

            Penggantinya adalah Zhu Qizhen putra dari istri keduanya bernama Sun. Ia naik tahta dengan gelar Zhengtong pada tahun 1436 saat baru berusia 8 tahun. Karena usianya yang masih belia, neneknya yang bernama Zhang (jandi Hongxi) memegang tumpuk kekuasaan penuh sebagai wali dengan dibantu oleh tiga orang menterinya bijaksana.

Sementara itu, bangsa Mongol yang dahulu diusir oleh Zhu Yuanzhang ke utara, kini menjadi kuat kembali. Mereka menyatukan dirinya dibawah Esen Khan. Kaisar Zhengtong pada tahun 1449 melakukan kesalahan fatal dengan mengikuti bujukan gurunyya, seorang kasim bernama Wang Zhen untuk menyerang Esen Khan. Akhirnya Zhengtong yang tidak sempat melarikan diri ditawan oleh mereka.

            Sebagai penggantinya diangkatlah adik Zhengtong yang bernama Zhu Qiyu sebagai kaaisar baru dengan gelar Jingtai (1450-1457). Ia merupakan seorang penguasa yang lemah, namun berkat jasa para menterinya, ibukota berhasil dipertahankan dari serangan Esen Khan.  Dengan mengangkat kaisar baru, pihak China telah berhasil menurunkan nilai penting bekas kaisaranya yang disandra oleh bangsa Mongol. Jingtai mengalami sakit kerasnya pada tahun 1457. Pada saat itu terjadilah kudeta menggulingkan Jingtai dan mengangkat kembali Zhengtong sebagai kaisar dan Jingtai wafat didugaakan karena siksaan kaum pemberontak. Setelah menduduki singgasannya kembali, Zheng tong yang saat itu telah mengganti gelarnya dengan Tianshun melakukan gerakan pembersihan. Ia melakukan jasa kaum Keberi dan memebentuk dinas rahasianya sendiri untuk memata-matai dan menemukan orang yang berniat menentangnya.

            Putra tertua Zhengtong, Chenghua memerintah pada tahun 1465-1487, dan diangkat sebagai pengganti ayahnya. Usianya baru 20 bulan ketika ayahnya ditawan bangsa Mongol. Chenghua memiliki kepribadian lemah, peragu, dan agak gagap ketika berbicara. Kaisar ini juga dikenal sebagai penggemar seni musik dan pertunjukan. Saat naik tahta, ibunya serta Ratu Qian permaisuri Zhengtong berebut kedudukan sebagai wali dan pada masa akhir pemerintahannya kekuasaan didominasi oleh selirnya Wan Guifei. Mereka melaukan reformasi dan pembenaan terhadap kesalahan rezim pemerintahan sebelumnya. Bidang militernya juga diperkuat oleh mereka sehingga kini kekuatan Dinasti Ming dapat mengungguli bangsa Mongol dan Jurchen. Dinasti Ming akhirnya menjadi disegani oleh negara-negara tetangga. Belakangan kekuasaan jatuh ke tangan seorang selir bernama Wan Guifei. Istri pertama Chenghua telah di turunkan dari kedudukannya karena memukul selir ini. Ia juga membunuh anak selir-selir lainnya agar mereka tidak mendapatkn kesempatan pewaris tahta. Chenghua membiarkan sepak terjang selirnya itu hingga kekuasaannya makin menjadi-jadi. Ia beserta Liang Fang, kasim kesayangannya, dan Wang Zhi, kepala keberi, mulai memerah negeri itu habis-habisan.

            Kekuasaan penuh angkara Wan Guifei beserta kaum Keberi yang jahat itu harus berakhir setelah naiknya tahta Hongzhi yang memerintah pada tahun 1488-1505, putra yang disembunyikan dari ancamana pembunuhan Wan itu. Ia merupakan salah seorang termuka Dinasti Ming yang terkenal karena kebajikannya. Sebagai seorang penganut aliran Konfusianisme yang teguh, ia mendengarkan saran-saran Dewan Penasehatnya. Kaisar bijaksana ini dikenal cermat dalam urusan kenegaraan. Oleh karena itu, semasa pemerintahannya negara berada dalam keadaan stabil dan harmonis.

Zhengde memerintah tahun 1506-1521 merupakan penguasa Dinasti Ming berikutnya yang menjadi putra kesayangan ayahnya (Hongzhi). Saat menjelang kematiannya, Hongzhi baru menyadari kelemahan putranya ini dan memohon pada Dewa Penasehat agar membimbing dan menjaga putranya tersebut. Kekahawatiran hongzhi ini menjadi kenyataan, karena Zhengde ternyata tidak menyukai urusan kenegaraan , tatacara istana, serta para nasihatnya yang kolot. Kekuasaan jatuh kembali ke tangan kaum Keberi, dan kaisar bahkan bermain-main sebagai pedagang dalam pasaran yang diselenggarakan oleh kasim di istana. Para pejabat yang khawtir dengan keaadaan ini, mencoba menyingkirkan kaum Keberi pada tahun 1506 tetapi gagal.
Zhengde tertarik dengan segala sesuatu yang berbau Tibet. Ia membangun sebuah kuil baru di kompleks istananya bagi para Lama. Terkadang ia mengenakan pakaian Tibet dan upacara pemakaman ibunya di pimpin oleh para biksu Tibet. Peristiwa yang terpenting yang terjadi pada masa pemerintahan kaisar ini adalah pemberontakan yang diterbitkan seorang pangeran di Ningxia pada tahun 1510 yang diikuti dengan dua tahun masa kekacauan di Sichuan. Pada masa akhir pemerintahannya, kaisar banyak melakukan pemborosan dengan melakukan perjalanan keliling negeri yang menghabiskan pembendaharan negara. Sekembalinya dari perjalanan terakhir, kaisar muntah darah dan jatuh sakit. Tiga bulan kemudian ia meninggal.

            Zhengde tidak mempunyai seoarng putra pun, sehingga singgasana Dinasti Ming terpaksa dialihkan kepada putra angkatnya yang naik tahta dengan gelar Jiajing (1522-1567). Kaisar baru ini merupakan keturunan putra bungsu Chenghua dengan seorang selir yang berasal dari Huangzhou. Jiajing ini seorang penganut Daoisme yang fanatik. Ia begitu terobsesi untuk menemukan obat hidup abadi.
Pada tahun 1542 , nyawa Jiajing berhasil di selamatkan dari usaha pembunuhan oleh para selirnya. Delapan belas orang selir mencekiknya dengan tali ketika sedang tidur. Namun, usahanya ini gagal karena mereka telah menarik simpul yang slah dan di samping itu salah seorang gadis telah membocorkan rencana itu pada ratu. Kendati obsesi Zhengde pada Daoisme sedikit banyak telah menyebabkannya mengabaikan urusan kenegaraan, untungnya ia berhasil memilih dan mengangkat menteri-menteri yang berkapasitas tinggi serta setia.

Masa pemerintahan Jiajing yang berlangsung cukup lama ini memberikan kestabilan bagi China. Meskipun demikian, pertahanan negara dapat dikatakan sangat lemah. Bangsa Mongol di utara  yang saat itu dipimpin oleh Altan Khan (1507-15820 telah menyusun kekuatannya kembali, dan pada tahun 1542 dengan penuh keberanian menyerang China. Sementara itu, di pantai sebelah tenggara, bajak laut Jepang menjadi makin ganas dan melakukan perampokan terhadap propinsi-provinsi China yang berbatasan dengan pantai.

            Longqing (1567-1572) yang merupakan pengganti Jiajing, sesungguhnya tidak begitu disukai ayahnya, yang telah memilih putra selirnya. Namun, karena pertimbangan bahwa Longqing yang lebih tua usianya. Sebagai penguasa yang lemah, tidak sedikit pun ia tertarik pada urusan negara. Berkat menterinya yang cendekia bernama Zhang Zhuzheng , perjanjian perdamaian berhasil dilakukan dengan Altan Khan, yang bersedia menerima status sebagai negara vasal (negara taklukan). Selain itu, gangguan para bajak laut Jepang juga berhasil diatasi.

            Dinasti Ming yang terkenal berikutnya adalah Wanli (1573-1620). Pada masa kekuasaannya, transformasi China menuju negara modern dimulai. Wanli yang memerintah selama kurang 47 tahun, merupaka penguasa China yang memerintah terlama setelah Han Wudi. Ia merupakan putra ketiga Longqing dan naik tahta saat baru berusia 10 tahun. Bidang pendidikan juga berkembang pesat semasa kekuasaan kaisar Wanli.

Pada mulanya pemerintahan Wanli dapat dikatakan baik karena didukung oleh menteri-menteri yang cakap dan loyal, termasuk Zhang Zhuzheng yang telah mengabdi semenjak pemerintahan kaisar sebelumnya. Efesiensi dan kedisiplinan dalam administrasi pemerintahan berhasil dibangkitkan kembali. Tetapi setelah kematian Zhang Zhuzheng, Wanli mulai menarik diri dari pemerintahan. Perseturuan dengan bangsa Mongol timbul kembali di mana pada tahun 1560 berhasil merebut Qinghai.

            Bangsa Jepang dibawah pimpinan Toyotomi Hideyoshi (1536-1598) berhasil menaklukan Korea –negara protektorat china, sehingga menimbulkan perang dasyat selama lima tahun (1593-1598) guna mengusir mereka. Kendati dimenangkan oleh Dinasti Ming, ekspidisi militer ini menelan biaya sangat besar yang menghabisakan devisa negara. Keuangan negara menjadi semakin memprihatikan dan itu semua masih di bebani oleh kehidupan Wanli yang sangat boros. Untuk mengatasi permasalahan keuangan yang makin menjadi-jadi, kaisar membuka kembali tambang perak pada tahun 1594 serta menarik pajak yang berat dari rakyat.

            Kaisar berikutnya adalah Taichang hanya memerintah selama sebulan saja 91620). Ia wafat tidak lama setelah memerintah. Putra Taichang kemudian naik tahta dengan gelar Tianqi (1621-1627). Penguasa Dinasti Ming ini merupakan seorang yang buta huruf, namun sangan terampil dalam pertukangan. Urusan kenegaraan diabaikan dan di serahkan kepada seorang Keberi Wei Zhongxian yang kemudian melakukan banyak kekejaman..

            Tianqi digantikan oleh adiknya yang naik rahta dengan gelar Chongzhen (1628-1644). Ia sekaligus merupakan kaisar Ming yang terakhir. Pada saat itu negara berada dalam keadaan kacau balau, namun ironisnya intelektualisme justru bangkit semasa pemerintahannya dan bahkan dua orang imam Yesuit, Johann Adam von Schall dan John schreck di beri kesempatan untuk memperbaiki penanggalan.
Sementara itu, menjelang akhir Dinasti Ming Bangsa Manchu di utara menjadi bertambah kuat. Pemimpin mereka Nurhachi beserta putranya Abahai berhasil merebut Liaoning pada awal abad ketujuh belas. Setelah merasa kuat mereka mendirikan dinasti yang diberi nama Qing (1626).


A. Runtuhnya Dinasti Ming

Abahai kini berniat untuk menaklukan China bagian utara. Pada tahun 1640, ia menyerang Jinzhou dengan kekuatan besar. Untuk menghadpi serangan itu, Dinasti Ming memerintahkan Hong Chengchou serta delapan orang Jendral termasuk Wu Sangui untuk mempertahankan kota. Selain itu, pihak Ming juga mengerahkan 130.000 pasukan untuk membela kedaulatan wilayahnya. Namun, Abahai berhasil menghancurkan lebih dari 50.000 pasukan China serta melumpuhkan pertahanan Dinasti Ming. Jinzhou akhirnya jatuh ke tangan bangsa Manchu dan pada tahun 1642 Hong berhasil ditawan oleh mereka. Wilayah Abahai kini bertambah luas hingga mencapai celah Tembok Besar (Shanhaiguan), tetapi ia memutuskan untuk tidak terliabat konfrontasi langsung dengan pasukan Ming yang kuat di daerah itu. Ia lebih memilih untuk mengalihkan serangannya ke Manchuria Utara, dan pada tahun 1643 seluruh daerah itu telah berada di bawah genggaman tangannya.

Meskipun demikian, kesehatan Abahai turun dengtan drastis dan wafat pada usia 51 tahun. Putra yang baru berusia enam tahun, Fulin dipilih untuk menggantikannya dengan dibantu oleh Jirgalang (sepupu Nurhaci) dan Dorgan (putra keempat belas Nurhaci) sebagi walinya. Gelar Fulin setelah menjadi kaisar adalah Shunzi (1644-1661).

Semasa kekaisaran Dinasti Ming yang terakhir Chongzhen, ancaman tidak hanya berasal dari Bangsa Manchu saja melainkan juga oleh pemberontakan yang melanda dalam negeri sendiri. Pemberontakan terpenting dipimpin oleh Li Zicheng yang berhasil merebut Beijing, ibukota Dinasti Ming pada tanggal 25 April 1644. Li lalu menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan dinasti baru adalah Xun.

Kaisar Chongzhen menggantung dirinya pada sebatang pohon dan bersamaan dengan kematiannya itu, berakhir pulalah Dinasti Ming. Jendral Wu Sangui yang ditugaskan menjaga perbatasan masih setia pada Dinasti Ming dan ia sebelumnya memang telah di panggil pulang untuk menyelamatkan ibukota. Mengetahui ibukota telah jatuh, di putuskannya untuk meminta pertolongan pada bangsa Manchu yang saat itu dipimpin Shunzhi guna mengusir Li.

            Wu membuka gerbang Shanhaiguan yang sedang dipertahankannya, dan mempersilakan pasukan Manchu untuk memasukinya. Ketika pasukan Manchu telah semakin mendekati Beijing, Li memutuskan untuk melarikan diri ke arah barat dengan sebelumnya membakar sebagian istana kekaisaran. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 4 Juni 1644. Jadi, istana yang didirikan Li hanya sempat bertahan sebulan lebih saja. Manchu memindahkan pemerintahan Mukden ke Beijing sehingga demikian berawallah kekuasaan Dinasti Qing di China.


B.      Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Semasa Dinasti Ming

            Kaisar Hongxi yang terakhir dengan astronomi telah berhasil mengenali adanya bintik matahari jauh sebelum bangsa Barat mengenalnya. Selama masa pemerintahan Dinasti Ming, pengamatan terhadap gerhana matahari total dapat dijumpai dalam catatan-catatan sejarah Provinsi. Kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan Dinasti Ming juga ditunjang oleh kedatangan para Yesuit.

            Pada tahun 1611, kaum Yesuit itu di minta untuk melakukan perbaikan terhadap penaggalan serta menerjemahkan buku-buku Barat mengenai astronomi dan matematik. Penerjemah ini dilakukan De Ursis dengan bantuan Paul Xu (Xu Guanqi tahun 1562-1633), ia seorang sastrawan Tionghoa yang telah menganut agama Kristen dan menjadi Murid Matteo Ricci.

            Salah satu karya Barat yang diterjemahkan adalah risalah matematika karangan Euklides yang tersohor itu. Tokoh Yesuit lain yang memberikan sumbangsih bagi imu pengetahuan Dinasti Ming adalah Johann Adam Schall. Ia membantu penyusunan penanggalan dan selain itu mengajar bahasa Tionghoa cara pembuatan meriam. Ensiklopedi dalam bidang teknik dan ilmu pengetahuan banyak pula dihasilkan semasa Dinasti Ming. Pada tahun 1615 terbitlah suatu karya berjudul Gongbu shangku xuzhi (apa yang Orang Perlu Ketahui Mengenai Perbengkalan dan Pergudangan Pada Kementrian Pekerjaan Umum). Wang Zheng tahun 1571-1644 menulis buku yang mengulas mengenai seluk beluk peralatan militer serta hidrolis.


C.       Perkembangan Ilmu Pengobatan

Li Shizhen tahun 1518-1593 adalah tabib terkenal yang hidup semasa Dinasti Ming. Hasil karyanya yang terpenting adalah Materia Medica (Bencao Gangmu) dalam 52 jlid yang memuat penjelasan mengenai 1.892 obat Tionghoa serta memiliki lebih dari 1000 ilustrasi. Pada perkembangan selanjutnya, karya ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing termasuk beberapa bahasa barat.

Li Shizhen sendiri berasal dari keluarga tabib. Semenjak kecil ia telah mengagumi pekerjaan sebagai tabib yang sanggup menyelamatkan banyak nyawa, sehingga bercita-cita pula untuk menjadi tabib seperti ayah dan kakeknya. Dari hasil pengamatannya terhadap literatur pengobatan lama, ditemukannya berbagai kesalahan fatal di dalamnya, sehingga inilah yang mendorong Li untuk menyusun Materia Medica yang tersohor itu.


D.       Perkembangan Seni

Novel-novel yang termuka elah diterjemahkan kedalam banyak bahasa merupakan produk utama zaman Dinasti Ming. Kisah Tiga Negara merupakan novel sejarah yang ditulis berdasarkan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada Zaman Tiga Negara dengan dibumbui berbagai kisah dramatis. Pengarangnya adalah Lo Guanzhong yang hingga ini masih belum dapat ditentukan dengan pasti kapan kurun waktu kehidupannya. Novel ini juga tidak kalah menarik adalah Perjalanan ke Barat.

Kisah Tepi Air mengisahkan tentang 108 pendekar Gunung Liang (Liangshan). Mereka adalah kaum yang menjadi korban fitnah serta tiraniorang lain. Ada yang istrinya yang direbut oleh seorang jagoan dan tidak dapat memperoleh keadilan dari pihak berwenang.

            Karya seni arsitektur terkemuka dalam Dinasti Ming tampak pada bangunan Kuil Surgawi, tempat kaisar mengadakan upacara penghormatan pada Langit (tian). Kuil ini dibagi menjadi tiga bagian yang masing-masing berorientasikan arah utara-selatan, yakni Kuil Pemujaan Tahunan, tempat kaisar berdoa memohon panen yang baik, Kuil alam Semesta tempat meletakan papan pemujaan bagi langit dan leluhur, dan alat Langit suatu panggung berbentuk lingkaran yang dikelilingi pembatas berbentuk segiempat atau melembangkan peribahasa Tionghoa yang berbunyi “Langit bulat dan bumi persegi”.

            Dinasti Ming juga sangat terkenal akan keramik-keramiknya yang diekspor ke seantero penjuru dunia. Kaisar-kaisarnya sendiri menjadi pelindung bagi industri kramik dengan mendirikan pabrik keramik kekaisaran di Jingdezhen provinsi Jiangxi. Produksi keramik mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Xuande dan Jiajing. Nialinya menjadi lebih berhaga ketimbang sutra dan diekspor hingga ke Jepang, Asia Tenggara serta Timur Dekat.

            Dalam seni lukis pemerintahan Dinasti Ming berupaya menghidupkan kembali kejayaan seni lukis Dinasti Song. Objek lukisan pada masa itu adalah pemandangan alam atau hewan. Sebagaimana halnya pad zaman Dinasti Song lukisan Ming bernuansa realisitis.
Seni ilustrasi pada buku mengalami kemajuan pesat semasa Dinasti Ming. Anehnya, pendorong kemajuan ini adalah tidak adanya hak cipta pada masa itu sehingga suatu penerbit tidak dapat mencegah penerbit lain untuk menerbitkan buku yang sama. Oleh karena itu agar dapat menang dalam persaingan, para penerbit berlomba-lomba untuk menghiasi buku terbitnya dengan gambar-gambar agar dapat menarik minat pembaca.


E.       Perkembangan Ekonomi dan Masyrakat
Semasa pemerintahan Chenghua (1465-1487), terjadi perkembangan yang pesat dalam bidang industri, seperti sutra yang dihasilkan di Suzhou. Ini menciptakan golongan kaya baru yang berlomba-lomba dengan kaum bangsawan dalam mengumpulkan benda-benda seni. Pusat kebudayaan berpindah ke sebelah selatan, yakni kelembah Sungai Yangzi. Sementara itu, di desa-desa para petani miskin yang tidak mempunyai tanah berbondong-bondong ke kota, sehingga terjadi urbanisasi. Para peserta ujian pada zaman dahulu menuliskan karya-karya klasik konfusianisme yang menjadi bahan ujian pada kemeja bagian dalam mereka. Pada saat mengikuti ujian negara, para sarjana ditinggalkan seorang diri dalam ruangan sehingga memungkinkan mereka untuk melihat contekan itu.


F.      Perjalanan Muhibah Zheng He, Perkembangan dalam Navigasi dan Teknik Pembuatan Kapal

Zheng He (Cheng Ho) berangakat pada tahun 1405 dengan membawa 63 kapal, memuat 27.870 orang. Hal terpuji yang patut kita teladani adalah meskipun membawa kekuatan besar, tetapi Zheng he tidaklah berusaha menaklukan atau menjajah negeri-negeri yang dikunjungi. Hal ini tentunya berbeda dengan bangsa barat,di mana penjajahan yang mereka lakukan selalu di akhiri dengan penjajahan.

Bukti nyata teknologi China dalam bidang pelayaran di perlihatkan oleh sebuah kitab yang berjudul Wu Pei Chi, yang isinya mengenai seluk beluk pelayaran China Kuno. Kitab ini juga mencatat pula posisi bintang-bintang petunjuk arah serta informasi geografis daerah-daerah asing seperti letak, keadaan alam, dan sebagainya. Bintang kutub memiliki arti penting bagi bangsa Tionghoa serta merupakan dasar bagi astronomi Chinaa. Bintang ini dianggap sebagai “kaisar”nya bintang.

Bangsa Tionghoa selama berabad-abad telah mengetahu bagaimana pembuatan kapal yang sanggup bertahan terhadap ganasnya samudra raya. Mereka menemukan cara pembuatan rangka kapal yang kokoh dan terbagi atas berbagai bagian. Pada ujung masing-masing bagian itu, terhadap bagian yang kedap air, mirip dengan ruas-ruas batang bambu. Tentu saja untuk membuat kapal sebesar dan sebanyak yang dipergunakan Zheng He dalam misi muhibahnya diperlukan sejumlah minyak pohon tung, sehingga berhektar-hektar tanah sepanjang Sungai Yangzi harus dibersihkan dan selanjutnya ditanami pohon tung.

            Secara keseluruhan, Zheng He telah melakukan tujuh kali pelayaran. Pelayaran pertama di awali pada tahun 1405, dengan membawa 63 kapal serta 27.870 orang. Armada ini lalu berlayar menuju indochina, Champa, dan singgah di Palembang.
            Perjalanan kedua dilakukan pada tahun 1408 yang mengunjungi Pahang, Singapura, Malaka, Kalkuta, Srilanka, Maladewa, Quilon, Cochin, Kalkuta, Persia, Aden, dan Malakkah. Perjalanan ketiga berawal pada tahun 1412. Zheng He pada kesempatan kali ini mengunjungi Sumatera, Jawa, Madura, dan lain sebagainya. Pada tahun 1416, Zheng He mengawali muhibahnya keempat dengan disertai oleh utusan berbagai negeri yang mempersembahkan upeti pada Dinasti Ming. Misi muhibah kelima di lakukan pada tahun 1421 dengan menyinggahi Siam dan Sumatera. Sedangkan pelayaran keenam diawali pada tahun 1424 dengan tujuan Sumatera. Misi muhibah keenam merupakan yang terakhir dilakukan dibawah pemerintahan Kaisar Yongle. Zheng He berlayar kembali demi mempererat hubungan dengan negara-negara di seberang lautan. Pelayarn ketujuh ini di lakukan antara 1430-1433 yang mengunjungi Srilanka, Kalkuta, Cochin, Persia, Aden, dan Madagaskar.


G      Perkembangan Bidang Keagamaan dan Filsafat

1.      Konfusianisme
Tokoh konfusianis terkenal pada zaman ini adalah Wang Yangming (1472-1528/9), seorang ini keturunan dari keluarga sarjana serta pejabat terpandang. Wang mengundurkan diri dan mempelajari Budhisme serta Taoisme untuk sementara waktu. Saat berusia 33 tahun, negara memanggilnya kembali dan menugaskannya sebagai komandan pasukan.

Pemikiran Wang Yangming dapat diringkaskan sebagai berikut :
1)      Pikiran dan gagasan (principles) adalah satu.
2)      Kesadaran adalah kemampuan dalam diri manusia untuk membedakan baik dan buruk.
3)      Kesatuan antara pengetahuan dan tindakan.
Wang Yangming menyakini bahwa setiap orang sebenarnya sanggup untuk menjadi orang suci, sebagaimana yang dikatakan Mengzi bahwa setiap orang tidak musahil untuk menjadi seperti Yao dan Shun.


2.      Buddhisme
Zhu Yuanzhang pernah menjadi biarawan Buddhis, ia sangat mendukung Buddhisme. Kerap dikumpulkannya para biksu di istana untuk mengajar sebagai naskah suci Buddis seperti  Prajnaparamita dan Lankavatara. Kerajaan menyokong orang-orang yang hendak menjadi biarawan, sehingga jumlah mereka makin meningkat pesat. Pada tahun 1372.57200 biarawan Buddhis dan Taois ditahbiskan, sementara jumlah meningkat.


3.      Kedatangan Misionaris Kristen
Selama masa pemerintahan Wanli, seorang imam Yesuit bernama Matteo Ricci tahun 1552-1616 memperkenalkan kembali agama Kristen di China yang sebelumnya sudah pernah masuk ke negeri tersebut dalam bentuk Nestorianisme. Saat hendak menjalankan misinya, Matteo Ricci menyadari bahwa bangsa Tionghoa sangat menjungjung tinggi pengetahuan karya-karya klasik Konfusianisme, sehingga demi menunjang keberhasilan misinya, Ricci mulai mempelajari karya-karya tersebut. Rucci menyakini bahwa bangsa Tionghoa hanya dapat diperkenalkan pada Kekristenan jika ia dapat menghadirkan suatu bentuk agama tersebut yang selaras dengan Konfusianisme. Kebijaksanaan inilah yang kemudian mendorong beberapa sarjana terkemuka Tionghoa menganut Kristen. Misionaris lain yang terkenal adalah Etinne Faber. Tokoh legendaris ini hidup pada masa akhir Dinasti Ming dan berkaya di Shanzi. Ia telah mengarang banyak karya mengenai hagiografi Buddhis dan Daois.


F.       Hubungan dengan Kepulauan Nusantara
Selain misi pelayaran Zheng He yang mengunjungi kepulauan Nusantara, hubungan dengan China tetap terjalin dengan baik. Kurang lebih tahun 1560, sejumlah 500 kosakata telah dikumpulkan oleh Yang Lin, juru tulis kearsipan ibukota Dinasti Ming. Istilah-istilah yang sebagian besar berhubunggan dengan hasil bumi itu memperlihatkan adanya hubungan perdagangan yang ramai dengan China. Jadi bahwa bahasa Melayu yang kelak berkembang menjadi bahsa Indonesia telah menjadi bahasa persatuan (lingua franca).


sumber


Follow @MikeTheBlogger
  • Post Terakhir
  • Rekomendasi

Mungkin anda tertarik

  • 5 Hantu Paling Konyol di Dunia
  • Kisah Pelayaran Laksamana Cheng Ho (Zheng He)
  • 12 Rahasia Tentang Doraemon
  • Hanya di Indonesia yang Ada Begini
  • Kisah Nyata, Orang-orang yang Dikutuk Karena Ucapannya

Minggu Ini

  • Ramalan dan Prediksi Mengerikan Tentang Indonesia
  • AsiaWeek Mengungkap Dalang Dibalik Peristiwa Mei 1998
  • 7 Alasan Menolak Jokowi Menjadi DKI 1
  • Saingi Amerika Serikat, China Ciptakan GPS Sendiri
  • Mengapa Kata 'Cina' Tidak Pantas Digunakan?
  • Saat Obama Lengser, China Akan Ambil Alih Posisi AS
  • Gus Dur, Bapak Tionghoa Indonesia
  • Awas! Facebook Mulai Menghapus Akun yang Menggunakan Kata "Cosplay"
  • Makna dan Sejarah Tahun Baru Imlek
  • 20 Kasus Terkonyol di Dunia
Web Directory
Tweet
2014 Mike Portal. All rights reserved.
Designed by SimplexDesign